Saat saya di madrasah Ibtidaiyah 6 tahun, ustazah Siti Maryam memberikan pelajaran tentang hasad. Saat itu ustazah menuliskan hadits di papan tulis yang cukup besar berukuran 5 meter. Ustazah menggunakan kapur putih. Setelah menulis seluruh hadits, beliau mempersilakan kami menyalinnya. Setelah menunggu sekitar 15 menit, lalu beliau mendiktekan kepada kami artinya.
Dalam menyalin hadits tersebut beliau meminta kami menulis dengan diberi jarak 5 garis dari buku bergaris kami para murid. Tujuannya ialah saat beliau mendiktekan arti maka para siswa bisa menulis persis di bawah kata yang diterjemahkan. Setelah semua siswa selesai menyalin lalu beliau membacakan artinya. Kami menggunakan huruf arab melayu gundul. Berikut arti dari hadits itu sebagai:
Telah menceritakan kepada kami Harun bin Abdullah Al Hammal dan Ahmad bin Al Azhar keduanya berkata; telah menceritakan kepada kami Ibnu Abu Fudaik dari Isa bin Abu Isa Al Hannath dari Abu Az Zinad dari Anas, bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Kedengkian akan memakan kebaikan sebagaimana api memakan kayu bakar, dan sedekah akan menghapus kesalahan sebagaimana air dapat mematikan api. Shalat adalah cahaya seorang mukmin, sedangkan puasa adalah perisai dari api neraka."
https://www.hadits.id/l/SkMJ371U0GYM
"Kedengkian akan memakan kebaikan sebagaimana api memakan kayu bakar, dan sedekah akan menghapus kesalahan sebagaimana air dapat mematikan api. Shalat adalah cahaya seorang mukmin, sedangkan puasa adalah perisai dari api neraka."
Setelah selesai mendiktekan lalu kami membaca bersama-sama. Beliau mencontohkan lebih dahulu, baru beliau meminta kami mambacanya. Setelah selesai, beliau berkata,"Hafalkan."
"Yaaaaaaaa," para siswa riuh karena terkejut akan tugas dari beliau.
"Hush, ustazah bilang hafalkan, ya hafalkan, kalian acara TV saja hafal mosok hadits gak bisa hafal?" ustazah Maryam menerangkan.
"Yang ustazah kasih ke kamu adalah bekal kamu seumur hidup kamu, dan kalau kamu bisa melaksanakan maka pahalanya untuk kamu, betul kan?" ustazah menyambung.
"Ustazah gak mau tahu, minggu depan harus maju satu per satu, menghafalkan, gak pakai tapi-tapian," ustazah berbicara dengan agak lantang.
Meskipun terasa berat, namun karena calon orang-orang sholeh hehehehe.......maka pantang bagi para murid menentang apa kata ustazah, apalagi ini untuk kebaikan kami sendiri. Beliau meminta kami menghafalnya dan memberi waktu satu minggu. Kami takut kalau kami menentang kata-kata ustazah apalagi itu untuk kebaikan kami maka ilmu kami menjadi tidak berkah.
Pantang menentang kata-kata ustazah, takut ilmu kami menjadi tidak berkah.
"Waduh.....harus dihafalkan," Itulah keluhan para siswa. namun kami semua termasuk siswa yang hormat pada guru, meskipun itu tugas yang berat saat itu, tapi kami hafalkan juga.
Seminggu kemudian pada saat harus maju ke depan, tidak ada siswa yang membolos.
Alhamdulillah, "tekanan" dari ustazah untuk menghafalnya, ternyata menjadi bekal bagi kami seumur hidup. Ibarat pepatah : "Belajar di waktu kecil, ibarat memahat di atas batu, belajar di waktu tua, ibarat memahat di atas air."
Alhamdulillah karena tugas berat itu, saya sendiri merasakan adanya"rem" saat gangguan hasad mulai ada gelagat akan timbul. Arti hadits itu masih saya ingat. "Api makan kayu bakar" itu remnya.
Pengalaman yang saya rasakan ialah saat rekan kerja kantor berebut jabatan dan saling iri beberapa tahun silam. Saat itu saya masih aktif berkantor di Jakarta. Saling ghibah dan fitnah serta kebencian terjadi setiap saat. Karena ilmu dari ustazah Maryam, alhamdulillah, saya tidak ikut-ikutan dengan politik kantor yang penuh maksiat itu. Semoga saya pribadi terus selalu bisa istiqamah. Aamiin.
Gonilan, 24 Juli 2024
(Selamat Pagi Dot Com)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar